Mulai Semua Kegiatan Dengan Basmallah...!

Selasa, 22 Januari 2013

Makalah Strategi Pembelajaran Aqidah Akhlak MI

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pada dasarnya merupakan pemilihan dan penetapan srategi pembelajaran yang optimal guna mencapai perolehan belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam kaitan ini, strategi penyampaian pembelajaran yang tetap merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.
Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai asma’ul husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab islami melalui pemberian contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
Dengan demikian, materi pendidikan Aqidah Akhlak bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama, akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat dan kehidupanya dihiasi dengan akhlak yang mulia dimanapun mereka berada.
Oleh karena itu guru dalam hal ini guru PAI atau guru kelas dituntut untuk mengembangkan metode-metode pembelajaran yang dapat memperluas pemahaman peserta didik mengenai ajaran-ajaran agama, mendorong mereka untuk mengamalkannya dan sekaligus dapat membentuk akhlak dan kepribadiannya. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis dalam menyusun makalah ini, disamping sebagai Tugas Ujian Tengah Semester ( UTS ) Mata Kuliah Pembelajaran Aqidah dan Akhlak.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang di atas, maka dalam penulisan makalah ini, penulis dapat merumuskan berberapa masalah sebagai berikut :
  1. Apa pengertian startegi pembelajaran Akidah Akhlah
  2. Apa saja tujuan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
  3. Strategi apa saja yang ditempuh dalam pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah  
C.    Tujuan
 
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini antara lain :
  1. Untuk mengetahui pengertian strategi pembelajaran Akidah Akhlak
  2. Untuk mengetahui apa saja tujuan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
  3. Untuk mengetahui strategi apa saja yang ditempuh dalam pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak
Strategi adalah siasat melakukan kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran yang mencakup metode dan teknik mengajar. Adapun yang dimaksud dengan metode adalah cara mengajar itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan teknik adalah cara melakukan kegiatan khusus dalam menggunaka suatu metode tertentu, seperti teknik bertanya, teknik menjelaskan, dan sebagainya.
Pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks ( rumit ) dengan maksud memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan. Tujuan yang hendak dicapai sebenarnya merupakan acuan dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. ( Joice Bruce .( 2000 )).
Aqidah adalah keyakinan/keimanan yang benar yang terealisasikan dalam perilaku akhlak mulia.
Jadi secara etimologis strategi pembelajaran akidah akhlak adalah suatu metode yang sadar dan terencana dalam menyiapkan dan memberi pengalaman belajar peserta didik untuk mengenal, memahami, mengahayati dan mengimani Allah dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Tujuan Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
Berdasarkan Permenag No 2 tahun 2008 Mata pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat :
  1. Menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
  2. Mewujudkan manusia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah islam.
C.    Strategi Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah
 Secara umum, belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Jadi perubahan perilaku adalah hasil belajar. Artinya seseorang dikatakan telah belajar, jika ia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya.
Akidah Akhlak merupakan mata pelajaran yang memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikan akhlak al karimah dan adab islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah SWT, malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, serta Qada dan Qadar.
Namun demikian untuk mencapai tujuan ( peningkatan keimanan dan pembentukan akhlak al karimah ) tersebut tidaklah mudah, diperlukan strategi / metode yang tepat dalam proses pembelajarannya.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran bergantung pada karakteristik pendekatan atau strategi yang dipilih. Misalnya metode tanya jawab, diskusi, eksperimen dan lain-lain. Maksud istilah pendekatan dalam kajian ini ialah pendekatan terhadap seluruh unsur terkait dalam pembelajaran.
Metode pembelajaran dewasa ini pada umumnya menggunakan pendekatan sistem ( system approach ). Dengan pendekatan ini pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem. Suatu sistem mempunyai sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Sistem pembelajaran juga mempunyai sejumlah komponen, yaitu materi, metode, alat, dan evaluasi. Semua komponen itu saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran dapat ditetapkan oleh guru dengan memperhatikan tujuan dan materi pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam menentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran. Tentu saja orientasi kita adalah kepada siswa belajar. Jadi metode pembelajaran ang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar siswa belajar.
Pendekatan yang ditempuh dalam pembelajaran Aqidah Akhlak adalah pendekatan Contextual Teaching and Learning ( pembelajaran kontektual ).
1.       Pendekatan Contextual Teaching and Learning
Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning ( CTL ) yaitu suatu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di kelas. Pembelajaran kontekstual terfokus pada perkembangan ilmu, pemahaman, keterampilan siswa, dan juga pemahaman kontekstual siswa tentang hubungan mata pelajaran yang dipelajarinya dengan dunia nyata. Pembelajaran akan bermakna jika guru lebih menekankan agar siswa mengerti relevansi apa yang mereka pelajari di sekolah dengan situasi kehidupan nyata dimana isi pelajaran akan digunakan. ( John Dewel ( 1918 ))/( Depdiknas, 2004 : 18 ). Dengan demikian pembelajaran kontekstual mengutamakan pada pengetahuan dan pengalaman atau dunia nyata ( Real Word Learning ), berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, kreatif, memecahkan masalah, siswa belajar menyenangkan, mengasyikkan, dan tidak membosankan.
2.      Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Penerapan pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh tugas utama pembelajaran efektif. Tujuh tugas utama tersebut antara lain :
  1. Konstruktivisme  yaitu mengembangkan pemikiran siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan barunya.
  2. Bertanya, yaitu mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Melalui proses bertanya, siswa akan mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Mereka dirangsang untuk mampu mengembangkan ide/gagasan dan pengujian baru yang inovatif, mengembangkan metode dan teknik untuk bertanya, bertukar pendapat, dan berinteraksi.
  3. Menemukan ( inquiry ), yaitu melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik. Misalnya siswa diminta untuk mencari contoh-contoh kejadian-kejadian/ciptaan-ciptaan Allah yang menunjukkan bukti atau tanda Kebesaran, Kekuasaan dan Kemahaan Allah.
  4. Learning Commonity, yaitu menciptakan masyarakat belajar ( belajar dalam kelompok ). Siswa hidup dalam lingkungan masyarakat tempat tinggalnya atau di sekitar sekolah. Dengan demikian, masyarakat dapat dijadikan sumber daya untuk mengembangkan pemahaman pembelajaran kontekstual.
  5. Pemodelan ( Modeling ), yaitu menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Siswa akan mudah memahami dan menerapkan proses dan hasil belajar jika dalam pembelajaran guru menyajikan bentuk suatu model bukan hanya berbentuk lisan.
  6. Refleksi ( Reflection ), yaitu melakukan refleksi akhir pertemuan pembelajaran. Refleksi ini merupakan ringkasan dari pembelajaran yang telah disampaikan guru. Siswa mengungkapkan, lisan maupun tulisan apa yang telah mereka pelajari. Refleksi ini bisa berbentuk kegiatan penulisan mandiri tentang sebuah ringkasan dari hasil pembelajaran yang telah diikutinya.
  7. Penilaian sebenarnya ( authentice assesment ), yaitu melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara, baik yang yang menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik siswa.
3.      Metode Pembelajaran Kontekstual  
Metode yang dilakukan dalam pembelajaran kontekstual Akidah Akhlak adalah  ceramah, simulasi ( suri tauladan ) dan juga metode latihan dan pembiasaan.
  1. Metode Ceramah
Metode ceramah dapat dipandang sebagai suatu cara penyampaian pelajaran dengan melalui penuturan. Metode ceramah ini termasuk klasik. Namun penggunaannya sangat populer. Banyak guru memanfaatkan metode ceramah dalam mengajar.oleh karena pelaksanaannya sangat sederhana, tidak memerlukan pengorganisasian yang rumit.
Ceramah digunakan ketika menjelaskan pelajaran yang tentunya diikuti oleh contoh realitas kehidupan yang berkaitan dengan materi yang disampaikan, mulai dari peristiwanya, sebabnya dan juga akibat yang akan diterimanya kelak.
  1. Metode Simulasi / Suri Tauladan / Modelisasi
Metode simulasi ( contoh / suri tauladan ) adalah metode yang sangat tepat dalam pembelajaran Akidah Akhlak ini, karena walau bagaimanapun akhlak kita sebagai seorang pendidik akan menjadi contoh yang berarti untuk peserta didik. Sebagaimana Rosulpun memberi contoh kepada umatnya dalam gerak gerik kehidupan.  
  1. Metode Latihan dan Pembiasaan
Untuk meningkatkan keimanan dan akhlak sebagai manivestasi dari pembelajaran Akidah dan Akhlak diperlukan latihan dan pembiasaan secara berulang-ulang oleh guru di sekolah maupun oleh orang tua dirumah.  karena walau bagaimanapun kecakapan hidup siswa ( life skill ) perlu dibina dan dibiasakan untuk senantiasa berpikir dan berakhlak fositif. Disamping itu juga pembentukan akhlak al mahmudah  sangatlah sulit jika tidak dilatih dan dibiasakan. Peranan orang tua dan lingkungan akan sangat menentukan sekali dalam hal ini. Jika siswa hidup dalam keluarga yang kurang baik akhlaknya, maka pendidikan disekolah mengenai akhlak tidak bisa terealisasikan karena anak akan melihat akhlak orang tua atau saudaranya yang lain, begitupun lingkungan. Oleh karena itu kerja sama antara sekolah, orang tua siswa, dan  para tokoh-tokoh masyarakat sangatlah diperlukan dalam pembinaan dan pembiasaan akhlak al mahmudah ini.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN


A.    KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa upaya meningkatkan keberhasilan pembelajaran merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh setiap orang yang berkecimpung dalam profesi keguruan dan kependidikan. Banyak upaya telah dilakukan, banyak pula keberhasilan telah dicapai, meskipun disadari bahwa apa yang telah dicapai belum sepenuhnya memberikan kepuasan sehingga menuntut renungan, pemikiran dan kerja keras untuk memecahkan masalah tersebut.
Menganalisis upaya meningkatkan keberhasilan proses pembelajaran, pada intinya tertumpu pada suatu persoalan, yaitu bagaimana guru memberikan pembelajaran yang memungkinkan bagi siswa terjadi proses belajar yang efektif atau dapat mencapai tujuan yang dihasilkan. Oleh karena itu penentuan strategi dan pemilihan metode pembelajaran yang tepat adalah salah satu solusinya.
Salah satu strategi pembelajaran yang bisa dilakukan dalam pembelajaran Akidah Akhlak adalah  Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning ( CTL ) yaitu suatu pendekatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan apa yang dipelajarinya di kelas.
Strategi ini dipilih karena dipandang cocok dengan tujuan pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah, karena berkaitan dengan pemahaman yang mencakup aspek kognitif ( pengetahuan/pemahaman ), Afektif ( sikap ) maupun Psikomotorik ( keterampilan ) siswa.

B.     SARAN-SARAN
  1. Guru hendaknya dapat memilih, mengembangkan dan menggunakan strategi pembelajaran yang efektif dalam kegiatan proses pembelajaran.
  2. Guru hendaknya memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pembalajaran dan karakteristik peserta didik.
  3. Orang tua hendaknya ikut membimbing dalam pembentukan, pemahaman dan penerapan akidah dan akhlak siswa karena waktu luang yang paling banyak adalah di rumah.
  4. Masyarakat hendaknya ikut memperhatikan dan menciptakan lingkungan yang sehat dan positif, karena faktor lingkungan ikut mempengaruhi pembentukan kepribadian dan akhlak siswa.
  5. Seluruh aspek ( pemerintah, masyarakat, sekolah, dan keluarga ) hendaknnya menjadi suri tauladan yang baik bagi anak-anak.


DAFTAR PUSTAKA


Kementerian Agama RI, 2008, STANDAR KOMPETENSI (SK) DAN KOMPETENSI DASAR (KD)MATAPELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BAHASA ARAB MADRASAH IBTIDAIYAH, Jakarta: SKKemenag.
Sumiati, Dra. Asra, M.Ed.( 2009 ). METODE PEMBELAJARAN, Bandung: CV. WACANA PRIMA.
M.Ag, Anwar Cecep ( 2012 ) SILABUS MATA KULIAH PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH, Bandung: UIN SGD
H. Mohamad Asrori, Prof.Dr.M.Pd. ( 2009 ) Psikologi Pembelajaran, Bandung : Bandung: CV. WACANA PRIMA. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar